Example floating
Example floating
Nganjuk

Rahasia Nyadran Masyarakat Dusun Sawunggaling: Tradisi Ajaib yang Menggetarkan!

×

Rahasia Nyadran Masyarakat Dusun Sawunggaling: Tradisi Ajaib yang Menggetarkan!

Sebarkan artikel ini
Rahasia Nyadran Masyarakat Dusun Sawunggaling: Tradisi Ajaib yang Menggetarkan!
Rahasia Nyadran Masyarakat Dusun Sawunggaling: Tradisi Ajaib yang Menggetarkan!

MEMO

Di Dusun Sawunggaling, larangan bagi pejabat untuk memasuki dusun ini bukanlah petaka, melainkan sebuah tradisi yang sarat makna. Masyarakatnya meyakini bahwa larangan tersebut memiliki tujuan baik yang ditinggalkan oleh leluhur mereka.

Setiap tahun, warga Dusun Sawunggaling menggelar kegiatan nyadran, sebuah bentuk penghormatan kepada leluhur mereka. Apa yang terjadi selama kegiatan ini? Temukan selengkapnya di bawah ini.

Mengungkap Makna Mendalam dan Nilai Tradisi Nyadran yang Megah

Masyarakat di Dusun Sawunggaling selalu memandang larangan bagi pejabat untuk memasuki dusun tersebut sebagai sesuatu yang berarti. Keyakinan mereka adalah bahwa larangan tersebut sebenarnya bermaksud baik, dan telah diwariskan oleh para leluhur mereka.

Oleh karena itu, setiap tahun, penduduk desa tersebut selalu menyelenggarakan kegiatan pembersihan desa untuk menghormati leluhur mereka.

Kegiatan pembersihan desa ini biasanya dikenal dengan sebutan “nyadran.” Di Dusun Sawunggaling, yang terletak di Desa Bagorkulon, Kecamatan Bagor, kegiatan ini dilakukan secara rutin setiap tahun, biasanya sebelum bulan puasa Ramadan.

“Kegiatan ini (pembersihan desa) sudah menjadi bagian dari tradisi desa kami sejak lama,” kata Kaur Keuangan Desa Bagorkulon, Gudianto.

Gudianto menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan ekspresi rasa syukur penduduk desa kepada Tuhan, sekaligus sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur mereka, khususnya Ki Punggul, yang memiliki peran penting dalam sejarah desa.

Selama pelaksanaan nyadran, penduduk desa berkumpul sejak pagi di sarean, yaitu tempat pemakaman umum Dusun Sawunggaling dan Sadang.

Mereka membersihkan tempat pemakaman umum melalui kerja bakti bersama. “Setelah membersihkan, kami melakukan doa bersama,” tambah Gudianto, seorang ayah yang memiliki dua anak. Untuk menghormati leluhur mereka, kegiatan ini dilanjutkan dengan mengelilingi desa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *