Example floating
Example floating
Ekonomi BudayaKediri

Ini Alasan Mengapa Harga Bawang Merah di Kediri Melonjak!

×

Ini Alasan Mengapa Harga Bawang Merah di Kediri Melonjak!

Sebarkan artikel ini
Ini Alasan Mengapa Harga Bawang Merah di Kediri Melonjak!
Ini Alasan Mengapa Harga Bawang Merah di Kediri Melonjak!

MEMO kediri

Kenaikan harga bawang merah di Kabupaten Kediri mencapai titik tertinggi, mencatat lonjakan signifikan dalam dua minggu terakhir. Para pedagang seperti Marsinah dari Pasar Induk Pare mengungkapkan peningkatan yang terus berlanjut, dipicu oleh penurunan pasokan petani dan permintaan pasar yang tetap tinggi.

Advertisment
Example 300x600
Scroll ke bawah untuk baca berita

Harga Bawang Merah Tembus Rp 55 Ribu, Pedagang dan Petani Bersuara

Harga bawang merah di Kabupaten Kediri mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Pada hari sebelumnya, harga telah mencapai Rp 55 ribu per kilogram, dan kenaikan tersebut terjadi dalam dua minggu terakhir.

Marsinah, seorang pedagang grosir yang berusia 55 tahun dan beroperasi di Pasar Induk Pare, menyatakan bahwa kenaikan harga bawang merah terus berlanjut. Hal ini disebabkan oleh penurunan pasokan dari para petani, sementara permintaan di pasar tetap tinggi. “Sebelum Lebaran, harga per kilogramnya sekitar Rp 35 ribu, dan sekarang naik menjadi Rp 20 ribu per kilogram,” katanya.

Jika pasokan terus menurun, kemungkinan besar harga akan terus meningkat. Meskipun harga jual tinggi, petani tetap waspada terhadap ketidakpastian cuaca. Sutikno, seorang petani bawang merah berusia 56 tahun dari Desa Kedungmalang, Kecamatan Papar, menjelaskan bahwa kenaikan harga seperti ini adalah hal yang biasa terjadi selama musim hujan.

Menurutnya, menanam bawang merah pada musim hujan lebih sulit dan berisiko. “Tidak banyak petani yang mau menanam bawang merah saat musim hujan karena sulit dan membutuhkan kesabaran yang tinggi,” ujarnya saat diwawancara di rumahnya. Hal ini menyebabkan stok bawang merah menjadi berkurang.

Kenaikan Harga Bawang Merah dan Tantangan Petani

Sutikno juga menjelaskan bahwa tanaman bawang merah sebaiknya ditanam pada musim kemarau. Namun, pada musim ini, tanaman lebih rentan terhadap serangan ulat. “Namun, serangan ulat dapat diatasi dengan menggunakan obat ulat,” tambahnya.

Menurutnya, jika bawang merah ditanam pada musim hujan, risikonya adalah pertumbuhan umbi yang tidak maksimal. “Biasanya, umbi tidak akan berkembang secara optimal, sehingga produksi tidak akan mencapai potensi maksimalnya,” jelasnya.

Saat ini, menurut Sutikno, masih sedikit petani yang telah panen bawang merah. Meskipun ada beberapa yang sudah memulai panen, hasilnya belum memuaskan karena curah hujan yang masih tinggi.

“Kabar yang saya dengar adalah petani bawang merah di Kecamatan Kepung mulai panen, sementara di Desa Sekoto, Kecamatan Pare, yang merupakan basis produksi bawang merah, panen belum dimulai,” tambahnya.

Sutikno berharap bahwa harga jual bawang merah tetap tinggi mengingat perawatannya yang sulit. Dia juga berharap cuaca yang baik dapat memberikan dampak positif bagi para petani, terutama di daerah Kediri.

Kenaikan Harga Bawang Merah di Kediri: Lonjakan Signifikan dan Tantangan Petani

Dalam tenggang waktu dua minggu, harga bawang merah di Kabupaten Kediri telah melonjak tajam, mencapai puncak tertinggi Rp 55 ribu per kilogram. Pedagang grosir seperti Marsinah menggambarkan situasi ini sebagai hasil dari penurunan pasokan petani yang bertepatan dengan permintaan pasar yang tinggi.

Para petani seperti Sutikno dari Desa Kedungmalang juga memberikan perspektif mereka, menjelaskan bahwa musim hujan menjadi tantangan besar dalam penanaman bawang merah. Meskipun demikian, harapan tetap ada untuk stabilitas harga jual yang tinggi dan dampak positif dari kondisi cuaca yang lebih baik bagi para petani di Kediri.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *