Tak Mampu Bayar Hutang , Belasan Nasabah Lintah Darat Dilaporkan Polisi

oleh

NGANJUK,MEMO.CO.ID

Terlilit bunga pinjaman tinggi hingga tidak mampu membayar tepat waktu , sedikitnya ada 17 nasabah (kreditur) bank plecit harus berurusan dengan polisi. Itu dibuktikan dari seluruh nasabah yang kesemuanya adalah warga Desa Kaloran Kecamatan Ngronggot satu persatu telah menerima surat panggilan resmi dari Polsek Ngronggot.

Dalam isi surat panggilan yang ditandatangani Kapolsek Ngronggot,AKP Sugeng Suhariyono,SH tertanggal 4 juli 2018 tersebut perihal mengundang para nasabah dan akan dimintai keterangannya untuk kepentingan penyelidikan. Namun demikian dalam isi surat panggilan tersebut tidak tercatat secara jelas materi perkaranya. Hanya saja ditegaskan dalam alinea penutup surat panggilan tersebut para nasabah diminta untuk menemui kapolsek / penyidik pada hari Kamis,12/7/2018 pada pukul 13.00 wib diruang reskrim untuk didengar keteranganya.

Untuk mengklarifikasi kejelasan informasi tentang perkara yang sebenarnya dibalik surat panggilan tersebut, namun demikian belum ada keterangan sedikitpun yang disampaikan oleh Kapolsek Ngronggot, AKP Sugeng Suhariyono,SH. Itu terbukti saat wartawan memo.co.id menanyakan perihal itu melalui pesan singkat dan telpon ke nomor WhatsApp kapolsek pada minggu siang ( 8/7/2018) sekitar pukul 12.28 wib namun yang bersangkutan tidak memberi tanggapan.

Sementara itu dengan adanya surat panggilan tersebut, ditanggapi oleh Sayem,40, salah satu nasabah warga Dusun Bulakmiri RT 01 RW 06 Desa Kaloran kepada wartawan memo.co.id mengatakan siap datang ke polsek dan akan memberikan keterangan yang sesuai fakta.

” Gara gara hutang beranak pinak rumah saya sampai terjual. Sekarang saya bersama keluarga dengan terpaksa cari rumah kontrakan,” ucap Sayem saat menemui wartawan memo.co.id beberapa hari yang lalu bersama dengan teman sesama nasabah lainnya.

Masih kata Sayem, persoalan sosial yang dialami nasabah lainnya akibat terjerat hutang lintah darat sangat beragam.Demi bisa melunasi hutangnya ada yang rela minggat (pergi) meninggalkan keluarga dan ada juga yang nekat menjual sawah dan barang berharga lainnya seperti menjual hewan piaraan.