Menantikan IEDUL FITRI

oleh

Nur Hafidz
Penulis adalah Dosen UNISKA dan Ketua Yayasan Al Mujahidin, Maesan Mojo Kediri

Ramadlan hampir usai, perburunan bonus Ramadlan berupa malam laitlatul qadar pun hampir finish. Kita semua ikut berburu atau tidak, kita sendiri yang tahu. Lantas kita dapat menjumpainya lalu menangkapnya atau malah melepaskannya, kita juga tidak tahu.

Karena Bonus Ramadlan ini berbeda dengan bonus duniawi dalam bentuk Tunjangan Hari Raya (THR) bagi karyawan perusahaan, bahkan para karyawan bisa melakukan demo menuntut pemberian THR kepada pengusaha yang slintutan. Lailatul Qadar tidak dapat di demo, karena Allah Maha Adil dan Bijaksana berbeda dengan manusia.

Demo menuntut Malam yang lebih baik dari seribu bulan (seperti yang disampaikan oleh alloh dalam Alquran Surat Al Qodr, Lailatul Qodri Hoirun min alfi syahr) hanya dapat dilakukan dengan cara beribadah semaksimal mungkin, bukan hanya nyegati di malam-malam tertentu saja, karena kapan Lailatul Qadar turun hanya Allah yang tahu.

Logikanya, seperti dalam marketing dengan model pemberian sebuah hadiah untuk memacu penjualan produknya, jika ingin memperoleh hadiah tersebut, maka harus membeli produk sebanyak-banyak supaya peluang untuk mendapatkan hadiah besar, walaupun ada yang membeli satu produk sudah dapat hadiah.

Demikian pula untuk mendapatkan bonus Agung, kita tidak bisa hanya berpedoman pada satu atau dua malam harus melakukan ibadah seluruh malam pada bulan Ramadlan

Seperti kita ketahui bahwa Alloh mewajibkan kepada orang yang beriman (bukan lainnya) untuk bersusah payah meningkatkan derajat lewat puasa sebulan lamanya untuk menjadi hamba yang takwa.

Semoga saja kita melaksanakan ibadah puasa selama ini betul-betul mempunyai tujuan menjadi Takwa. Dengan kata lain peningkatan derajat ibadah kita siang malam bukan dilakukan karena tergiur oleh bonus khusus Lailatul qodr. Sebuah malam yang lebih indah dari pada seribu bulan. Bila kita beribadah tepat pada turunnya Lailatul Qodr, ‘ganjaran’ kita sama dengan ibadah selama seribu bulan.

Karena memang tidak semua orang bisa beribadah dengan model kekhusukan total. Barangkali sebagian besar umat (jangan lupa termasuk saya juga) baru bisa beribadah pada tingkatan dasar, sekedar memenuhi perintah dan dengan syarat minimal.

Namum jangan khawatir karena Alloh Maha Pemurah, Semoga berkat kemurahanNya ibadah kita yang masih sedemikian kecilnya dapat diterima disisiNya. Karena kebahagiaan umat yang paling besar adalah jika ibadahnya diterima. Inilah kemurahan Alloh dan tentunya keindahan dalam ajaran Islam.

Kewajiban puasa selama satu bulan penuh hampir kita selesaikan dengan tanpa mokel. Tetapi, rasanya diri kita ini belum terbebas dari noda kotoran yang brupa dosa. Kita telah merasakan Lapar dan dahaga selama hampir satu bulan penuh, akan tetapi lapar dan dahaga yang kita rasakan belum menyentuh apa apa dari kulit hati nurani kita. Kita terasa masih acuh terhadap mereka yang lapar, sehingga tangis bayi, rintahan saudara saudara kita yang belum beruntung, dan keluh para dhuafa belum mampu menggugah kemurahan hati kita.