Menantikan IEDUL FITRI

oleh

Setelah nanti orang melakukan puasa di bulan Ramadlan selesai, maka akan ada pesta Hari Raya Fitri (begitu orang menyebutnya). Lantas apa sebetulnya Fittri itu (dari kata dasar Fitrah), Oleh Kamus al Muhit li Fairizubadi, diartikan dengan al-Hilqoh al-lati Khuliqoalaiha al Maulud fi Rahimi Ummihi, Penciptaan yang berproses dari organ reproduksi (kandungan) ibu.

Artinya dilahirkan kembali berupa jabang bayi, yang bersih, telanjang, tak ternoda dan tidak tahu apa-apa.
Karena begitu kita mengakhiri ibadah puasa di bulan suci Ramadlan, berarti kita telah menyelesaikan tingkah laku melaparkan perut dan mendahagakan tenggorokan hanya karena Allah sang Maha Kuasa, padahal disamping kita tersaji isi perut dan pelega tenggorokan. Itulah yang menyebabkan Allah berkenan memberikan pahala berupa pembersihan diri kita dari dosa-dosa yang telah kita lakukan selama setahun. Seperti dalam Hadist Khudsi Assoumu li, wa ana ajri bihi, artinya puasa adalah untukku dan aku sendiri yang akan memberikan pahala puasa.

Ada sebagian orang yang menyebut hari raya itu dengan Lebaran, Lebar artinya bebas atau selesai. Selesai dari menguji kejujuran diri, selesai dari berlatih menahan diri selama satu bulan penuh.

Ternyata kejujuran itu mudah, karena kita bisa melakukannya dengan selamat. Ternyata menahan diri itu bisa kita lakukan, sehingga kita mengakhirinya dengan rasa suka cita seperti anak yang terpenuhi keingginannya. Dari situ dapat disimpulkan bahwa perbuatan jujur dan menahan diri itu tidak akan membawa sengsara, seperti yang telah kita lakukan selama sebulan penuh ini. Dan sepatutnya harus kita lanjutkan dalam kehidupan kedepan.

Sesuai dengan janji allah, bahwa orang yang melakukan puasa selama satu bulan penuh akan mendapatkan pengampunan dan akan dijauhkan dari api neraka, namun demikian harus kita pahami bahwa walaupun kita telah selesai puasa, belum cukup untuk menjamin seratus persen akan mendapatkannya.

Seperti Riwayat Nabi Muhammad SAW, Pada suatu hari ada seorang hamba menghadap Allah hanya dengan bermodalkan kelengkapan ibadah dan ketaatannya kepada-Nya. Namun sewaktu hidup di dunia telah melakukan makian dan menyakiti sesama, menghujat dan memukul sesama. Pahala ibadah dan ketaatannya habis untuk nomboki kesalahan yang dilakukan kepada sesama, bahkan itupun belum lunas, maka dosa orang yang dimaki dan disakitinya akan dibebankan kepadanya, dan akhirnya dia dilempar ke Neraka.

Kanjeng Nabi Muhammad pernah bersabda Barang siapa mempunyai kesalahan kepada saudaranya (sesamanya), maka bergegaslah segera meminta halal (maaf) kepadanya hari itu juga. Dan ini akan terjadi apabila kita telah menyambung lagi tali kekerabatan. Oleh sebab itu tradisi saat lebaran (hari raya) melakukan silaturrahmi itu penting dengan tujuan untuk saling memaafkan dan mengikat tali persaudaraan diantara saudara kita. Itu dilakukan bukan basa basi saja akan tetapi mau tidak mau harus dilakukan oleh mereka yang beriman kepada Allah, jika kita ingin selamat di dunia dan di akhirat.