Ironis!! Galian Pasir Di Ngantru Semakin Marak Hasilkan Ribuan Kubik Per-Hari

oleh

Tulungagung, memo.co.id

Aktifitas galian pasir di bantaran Sungai Brantas wilayah Ngantru Tulungagung begitu marak. Meskipun diduga keberadaannya illegal, namun hingga saat ini tetap aman, tidak tersentuh aparat maupun instansi terkait.

Kegiatan pencarian pasir ini, sudah berlangsung bertahun-tahun. Kendati di wilayah samping Tulungagung sudah bersih penambang pasir mekanik (diesel dan alat berat-red), namun di kabupaten bermotto ayem tentrem mulyo lan tinoto, kegiatan illegal itu masih terus berjalan.

Dalam sehari semalam, ratusan truk datang ke Tulungagung untuk membeli pasir Sungai Brantas di wilayah Ngantru. Bukan hanya dari Tulungagung, truk-truk itu juga datang dari Kediri, Trenggalek dan Ponorogo. Bahkan ada datang juga dari Madiun serta Ngawi.

Sungguhpun seumpama pemerintah daerah (pemda) bisa mengelolanya, pasti akan banyak uang masuk ke kas pemda.

Tetapi sayang, adanya pencarian pasir besar-besaran ini, hanya dikelola para pengusaha, dimana para pengusaha membeli lahan berpasir dari warga setempat, sebelum kemudian menggalinya untuk dijual.

Ironis memang. Sebab, akibat penggalian pasir, tanah di pinggiran Sungai Brantas menjadi rusak dipenuhi lubang-lubang. Jika kemarau, lahan-lahan bekas galian bisa digunakan bercocok tanam. Namun jika penghujan seperti saat ini, yang ada bekas galian penuh air dan tidak bisa dimanfaatkan.

“Akan jadi apa bantaran Sungai Brantas ini, jika penambang pasir tidak segera ditertibkan,” ujar Agus Jendral, Ketua Ormas Agung, Jumat (5/1).

Pernah diberitakan, penggalian pasir ini akan terus berjalan, sebab para pengusahanya selalu memberikan uang keamanan, tujuannya agar aktifitas mereka berjalan lancar.

“Dalam sehari, para pengusaha memberi uang keamanan Rp 100 ribu, Saya sehari iuran Rp 100 ribu untuk keamanan,” aku As, salah satu penambang pasir Desa Srikaton Ngantru.

Hal senada juga disampaikan Ipin, warga Desa Pucung Lor Ngantru yang sebelumnya Ipin adalah koordinator pengumpul iuran keamanan.

“Iya seratus ribu perhari setiap penambang,” kata Ipin, sekaligus menjelaskan, saat ini dirinya bukan lagi koordinator.